✨Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

Bolsel

Dari Pena ke Pengabdian: Al Amin Van Gobel Siap Abdikan Diri untuk Masa Depan Desa Biniha

e-berita.com, Bolsel – Bertahun-tahun lamanya, Al Amin Van Gobel (AVG) berada di garis depan untuk merekam denyut nadi masyarakat. Sebagai seorang jurnalis, penanya telah menulis ratusan kisah tentang ketimpangan sosial, aspirasi warga yang tersumbat, hingga lambatnya roda pembangunan. Namun kini, AVG memilih meletakkan pena dan bersiap melangkah ke ruang pengabdian yang lebih nyata: Bakal Calon Sangadi (Kepala Desa) Biniha.

Latar belakangnya di dunia pers tidak sekadar menjadi portofolio portabel. Bagi Al Amin Van Gobel, pengalaman panjang menguliti berbagai persoalan publik justru menjadi kompas utama untuk menatap masa depan tanah kelahirannya melalui gagasan pembangunan yang terintegrasi.

Ia menilai, membangun sebuah desa tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas administratif dan proyek fisik seremonial.

“Selama menjadi wartawan, saya melihat langsung bahwa pembangunan kerap berjalan sendiri-sendiri, parsial, dan minim keterlibatan warga. Pembangunan desa modern butuh roadmap (peta jalan) yang mampu menghubungkan setiap sektor,” ujar AVG saat ditemui di kediamannya, baru-baru ini.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Fisik

Di mata pria yang juga memiliki rekam jejak di dunia pendidikan ini, potret ideal Desa Biniha ke depan adalah sebuah ekosistem yang saling terhubung. Karakter lokal harus dikawinkan dengan kemajuan zaman demi melahirkan dampak ekonomi yang konkret.

Ia mencontohkan, pemberdayaan ekonomi warga tidak akan berhasil jika hanya menyentuh modal usaha. Program tersebut harus dikoneksikan dengan pemetaan potensi desa, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), pemanfaatan teknologi digital, hingga kepastian akses pasar.

Hal yang sama berlaku bagi sektor kepemudaan. AVG bertekad mengikis tren kegiatan pemuda yang hanya bersifat musiman.

“Desa harus tahu apa potensi dan masalahnya. Peta jalan itu yang kita susun untuk menghubungkan ekonomi, pendidikan, kepemudaan, dan pelayanan publik menjadi satu kesatuan program yang berkelanjutan,” tambahnya.

Tiga Pilar: Amanah, Visioner, Gotong Royong

Untuk mengunci gagasannya agar tidak menjadi sekadar janji politik, AVG merangkum visi besarnya ke dalam tiga prinsip utama: AVG (Amanah, Visioner, dan Gotong Royong).

• Amanah: Menjadi jangkar tata kelola pemerintahan. AVG menegaskan, kepercayaan warga wajib dibayar dengan transparansi anggaran dan pelayanan publik yang adil tanpa tebang pilih.

• Visioner: Menjadi arah kompas pembangunan jangka panjang. Program desa dirancang bukan sekadar menghabiskan anggaran tahunan atau memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan dipersiapkan untuk menjawab tantangan generasi Biniha di masa depan.

• Gotong Royong: Menjadi mesin penggerak sosial. Seluruh elemen—mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, hingga kelompok tani—wajib diberi ruang interaksi yang setara.

“Pemimpin desa itu bukan penguasa tunggal, melainkan stimulator. Pemerintah hanya penggerak, kekuatan sesungguhnya ada di tangan masyarakat,” tegas AVG.

Kantor Desa Sebagai ‘Ruang Publik’

Salah satu terobosan menarik yang ditawarkan AVG adalah meredefinisi fungsi kantor desa. Ia ingin mendobrak stigma kantor desa yang kaku dan hanya menjadi tempat pengurusan surat-menyurat.

Ke depan, fasilitas pemerintahan tersebut harus bertransformasi menjadi pusat pelayanan yang ramah dan ruang komunikasi terbuka tempat warga bebas berdiskusi, melempar kritik, maupun menyalurkan gagasan baru.

“Jika dipercaya memimpin, prinsip saya sederhana: saya ingin mendengar lebih banyak. Karena warga yang paling tahu apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh lingkungan mereka,” katanya dengan nada optimistis.

Keputusan AVG untuk pulang kampung dan bertarung dalam Pemilihan Sangadi Biniha diakuinya lahir dari panggilan jiwa. Baginya, melihat perubahan dari luar melalui tulisan kini dirasa sudah cukup. Saatnya mengeksekusi perubahan tersebut dari dalam sistem.

“Dulu saya menulis tentang bagaimana masyarakat merindukan perubahan. Hari ini, saya ingin menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri. Kalau bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi?” pungkasnya menyudahi percakapan.

Melalui kombinasi ketajaman analisis jurnalis, empati seorang pendidik, dan visi pembangunan antarsektor, AVG kini menawarkan warna baru bagi kontestasi politik lokal di Biniha. Sebuah tawaran tentang cara baru mengelola potensi desa demi meningkatkan kualitas hidup manusia di dalamnya. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button