Cegah Gagal Panen, Distan Bolsel Maksimalkan Pompa Air dan Sumur

e-berita.com, Bolsel — Musim kemarau yang melanda Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Sedikitnya 130 hektare lahan persawahan milik petani mengalami kekeringan dan terancam gagal panen.
Data tersebut disampaikan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bolsel. Kondisi kekeringan ini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu produktivitas pertanian sekaligus ketahanan pangan daerah.
Jika mengacu pada rata-rata produktivitas nasional sekitar 5–6 ton gabah per hektare, kekeringan yang melanda 130 hektare lahan tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan produksi sekitar 650 hingga 780 ton gabah apabila tanaman tidak berhasil diselamatkan.
Ancaman tersebut tentu tidak dapat dipandang sebelah mata, mengingat sektor pertanian menjadi salah satu penopang ketersediaan pangan masyarakat. Karena itu, langkah cepat dan terukur dinilai penting untuk menekan dampak kekeringan terhadap petani.
Sejumlah petani terdampak pun berharap pemerintah daerah terus memperkuat intervensi di lapangan, terutama dalam memastikan ketersediaan air untuk lahan persawahan.
“Kami harap ada solusi dari pemerintah dalam mengatasi masalah kekeringan di lahan sawah kami saat ini,” ungkap seorang petani asal Kecamatan Bolaang Uki.

Distan Lakukan Langkah Penanganan
Kepala Dinas Pertanian Bolsel, Anas Kangiden mengatakan pihaknya bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kementerian Pertanian RI dan para petani terdampak telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami bersama PPL Kementan RI dan petani terdampak sudah melakukan kolaborasi dan gotong royong dalam mengatasi permasalahan ini,” ujar Anas melalui pesan seluler kepada media ini.
Menurutnya, salah satu fokus utama penanganan adalah memastikan kebutuhan air bagi tanaman tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan pompa air, memperbaiki saluran irigasi, serta membuat sumur-sumur di sejumlah lokasi persawahan yang terdampak kekeringan.
Langkah itu diharapkan dapat membantu mempertahankan kondisi tanaman sekaligus mengurangi risiko terjadinya puso atau gagal panen.
“Kami memaksimalkan sumber daya yang ada agar bisa meminimalisir dampaknya, serta mencegah potensi-potensi petani gagal panen atau produksi,” tegas Anas.
Ketahanan Pangan Jadi Perhatian
Persoalan kekeringan ini sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah perubahan kondisi cuaca.
Dengan luas lahan terdampak yang mencapai 130 hektare, keberlanjutan penanganan di lapangan menjadi penting. Tidak hanya menyelamatkan tanaman yang saat ini terancam, tetapi juga memastikan petani memiliki akses terhadap sumber air yang memadai selama periode kemarau.
Distan Bolsel bersama PPL Kementerian Pertanian dan petani pun terus melakukan upaya secara gotong royong di lokasi-lokasi terdampak.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus memperkuat dukungan sarana dan prasarana pertanian, sehingga dampak kekeringan dapat ditekan dan produktivitas petani tetap terjaga.
Bagi petani, ketersediaan air bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menjadi penentu keberlangsungan tanaman dan nasib hasil panen mereka di tengah ancaman musim kemarau. (rdk)



