Di Tengah Tebing yang Rawan, Harapan Belum Padam di PETI Bolingongot

e-berita.com, Bolmong – Suara mesin alat berat sesekali memecah kesunyian di lereng Monsi, Bolingongot, Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Minggu (28/6/2026). Di antara tumpukan tanah dan bebatuan yang masih labil, puluhan personel gabungan terus berjibaku mencari satu korban yang hingga kini masih tertimbun longsor.

Di lokasi yang dikenal sebagai area Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) itu, tim penyelamat bekerja tanpa mengenal lelah. Mereka menyisir setiap titik longsoran, menggali material tanah secara manual, lalu bergantian mengoperasikan alat berat untuk membuka akses menuju lokasi yang diduga menjadi titik tertimbunnya korban.

Di tengah upaya pencarian tersebut, hadir pula Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Yusra Alhabsyi. Dengan mengenakan perlengkapan lapangan, ia meninjau langsung proses evakuasi sekaligus memberikan dukungan moral kepada para personel gabungan dan keluarga korban yang menunggu dengan penuh kecemasan.

Kehadiran orang nomor satu di Bolmong itu menjadi simbol bahwa tragedi di PETI Bolingongot bukan sekadar peristiwa kecelakaan tambang biasa, melainkan duka bersama yang mengetuk rasa kemanusiaan semua pihak.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat setempat terus berpacu dengan waktu. Namun, medan yang curam dan kondisi tanah yang masih berpotensi bergerak membuat setiap langkah pencarian harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Sekitar pukul 12.00 WITA, suasana di lokasi sempat berubah. Tim berhasil menemukan salah satu korban dari dua yang dilaporkan tertimbun longsor. Korban tersebut diketahui bernama Alif Gifara Tamimu.

Tim kemudian segera mengevakuasi jenazah korban dan langsung di bawah ke rumahnya. Penemuan tersebut sekaligus memunculkan harapan baru bahwa korban terakhir juga dapat segera ditemukan.

Meski demikian, operasi penyelamatan masih terus berlangsung guna mencari keberadaan satu korban lainnya.

Di hadapan para petugas, Bupati Yusra mengingatkan bahwa keselamatan tim penyelamat tetap menjadi prioritas utama.

“Kami terus bergerak sekuat tenaga. Saya minta seluruh tim bekerja dengan hati-hati namun tetap cepat. Mari kita panjatkan doa agar proses ini berjalan lancar dan korban yang belum ditemukan dapat segera ditemukan,” ujar Yusra.

Hingga sore menjelang malam, suara komando para petugas masih terdengar dari balik tebing. Sebagian personel bergantian beristirahat, sementara yang lain tetap bertahan di titik pencarian.

Di lokasi PETI Bolingongot, waktu seakan berjalan lebih lambat. Ada keluarga yang terus memanjatkan doa, ada relawan yang tak henti menawarkan bantuan, dan ada para petugas yang mempertaruhkan tenaga demi satu tujuan membawa pulang korban terakhir.

Tragedi ini sekali lagi menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas pertambangan tanpa izin yang kerap memakan korban jiwa. Namun di tengah duka dan ancaman medan yang berbahaya, solidaritas kemanusiaan tetap menyala—menjadi harapan yang belum padam di lereng Monsi, Bolingongot. (rdk)

Exit mobile version